Sejarah Islam 24 July 2025

Keajaiban Doa Nabi Zakaria: Ketekunan, Harapan, dan Hikmah Tak Terduga

Keajaiban Doa Nabi Zakaria: Ketekunan, Harapan, dan Hikmah Tak Terduga
Bagikan:

Setiap kali saya membaca tentang ketekunan Nabi Zakaria dalam berdoa, selalu ada yang membuat hati tersentuh. Kisah beliau bukan sekadar cerita tentang seorang nabi yang menginginkan keturunan, melainkan perjalanan spiritual yang penuh hikmah, harapan, dan keajaiban. Dari berbagai riwayat dan tafsir yang saya pelajari, kisah Nabi Zakaria menjadi salah satu pelajaran terbesar tentang sabar, tawakal, dan keyakinan pada janji Allah.

Ketekunan Doa di Tengah Ujian Panjang

Yang selalu membuat saya kagum adalah keteguhan hati Nabi Zakaria AS. Menikah di usia 30 tahun dengan seorang wanita yang dicintainya, beliau menghadapi kenyataan pahit: istrinya mandul. Dalam tradisi masyarakat Arab kala itu, keturunan adalah kebanggaan dan harapan masa depan. Namun, Nabi Zakaria tidak pernah putus asa. Selama 70 tahun, beliau berdoa tanpa henti, memohon kepada Allah agar dikaruniai anak dari istrinya yang sudah berusia 90 tahun. Bayangkan, di tengah usia yang sudah sangat senja, beliau tetap menjaga harapan dan keyakinan. Dari yang saya pahami tentang kondisi Arab saat itu, tekanan sosial dan harapan keluarga sangat besar, namun Nabi Zakaria memilih jalan sabar dan tawakal.

Dalam Surah Maryam, Allah mengabadikan doa Nabi Zakaria yang penuh kelembutan dan kerendahan hati:

كهيعص
Kaf Ha Ya 'Ain Shad

Ayat ini menjadi pembuka kisah, menandakan keunikan dan keistimewaan perjalanan Nabi Zakaria. Beliau berdoa secara sembunyi-sembunyi, khawatir jika kaumnya mengetahui, mereka akan menganggapnya gila karena meminta keturunan di usia 100 tahun. Namun, justru di titik inilah Allah menunjukkan keajaiban-Nya.

Harapan yang Tak Pernah Padam di Usia Senja

Dalam refleksi saya, ketekunan Nabi Zakaria adalah pelajaran tentang harapan yang tak pernah padam. Beliau tidak hanya meminta anak, tetapi juga memohon agar anak itu menjadi pewaris risalah kenabian dan kebaikan keluarga Nabi Ya’qub. Doanya bukan sekadar keinginan pribadi, melainkan harapan besar untuk kelangsungan dakwah dan kebaikan umat. Dari berbagai sumber sirah, saya belajar bahwa permohonan Nabi Zakaria sangat spesifik dan penuh makna: “Ya Allah, berikan aku keturunan yang baik dari istriku yang mandul ini.”

Allah pun menjawab dengan cara yang luar biasa. Setelah 70 tahun berdoa, malaikat Jibril datang membawa kabar gembira: Nabi Zakaria akan dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Yahya. Ini bukan sekadar jawaban atas doa, tetapi juga bentuk “plus-plus” dari Allah. Anak laki-laki dalam tradisi Arab membawa nasab dan kehormatan keluarga. Lebih dari itu, Yahya akan menjadi seorang nabi yang saleh, mempercayai kalimat Allah, dan menjadi pemimpin yang bijaksana.

Tanda-Tanda Keajaiban dan Jawaban Allah

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Allah memberikan tanda-tanda khusus kepada Nabi Zakaria. Beliau meminta kepada Allah agar diberikan tanda jika istrinya hamil, sebelum tanda-tanda fisik muncul. Allah pun mengabulkan: suara Nabi Zakaria hilang selama tiga hari, kecuali saat berzikir. Ini menjadi bukti nyata bahwa keajaiban Allah datang dengan cara yang tidak terduga, di luar logika manusia.

Dalam Surah Al-Anbiya dan Ali Imran, Allah menegaskan bahwa permohonan Nabi Zakaria diterima karena beliau dan istrinya selalu berlomba-lomba dalam kebaikan, berdoa dengan penuh semangat dan khusyuk. Bahkan, Allah memperbaiki keadaan istrinya yang semula mandul dan pemarah, menjadi wanita yang lembut dan penuh kasih. Dari sini saya belajar, bahwa doa yang tulus dan sabar akan selalu berbuah kebaikan, bahkan lebih dari yang kita harapkan.

Hikmah di Balik Kesabaran Nabi Zakaria

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah ini adalah pentingnya sabar dan konsistensi dalam berdoa. Nabi Zakaria tidak pernah berhenti berharap, meski secara manusiawi mustahil untuk memiliki anak di usia 100 tahun. Allah mengajarkan bahwa setiap doa adalah garis start menuju garis finish yang telah ditetapkan-Nya. Selama kita sabar dan terus berdoa, Allah akan memberikan jawaban yang terbaik, bahkan dengan “plus-plus” yang tidak kita duga.

Dalam tafsir para ulama, disebutkan bahwa Nabi Zakaria hanya meminta satu hal: anak yang saleh. Namun, Allah memberikan lebih dari itu—anak laki-laki, seorang nabi, pemimpin, dan pewaris risalah. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk tidak pernah putus asa dalam berdoa, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya.

Warisan Spiritual untuk Generasi Penerus

Yang menginspirasi dari momen ini adalah warisan spiritual yang ditinggalkan Nabi Zakaria dan keluarganya. Yahya AS tumbuh menjadi sosok yang mempercayai kalimat Allah, menjadi pemimpin yang bijaksana, dan membawa kebaikan bagi Bani Israil. Dalam tradisi sirah, kisah Nabi Zakaria menjadi teladan bagi siapa saja yang menghadapi ujian berat dalam hidup. Ketekunan, harapan, dan keyakinan pada janji Allah adalah kunci untuk meraih kebahagiaan dan keberkahan.

Dari perjalanan panjang cerita ini, kita belajar bahwa sabar dan tawakal adalah fondasi utama dalam menghadapi ujian hidup. Kisah Nabi Zakaria mengajarkan bahwa keajaiban Allah selalu datang pada waktu yang tepat, dengan cara yang paling indah. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk terus berdoa, berharap, dan berusaha menjadi hamba yang dicintai Allah.