Sejarah Islam 30 July 2025

Hijrah Abdurrahman bin Auf: Ketulusan, Pengorbanan, dan Keajaiban Rezeki di Madinah

Hijrah Abdurrahman bin Auf: Ketulusan, Pengorbanan, dan Keajaiban Rezeki di Madinah
Bagikan:

Setiap kali saya membaca tentang perjalanan hijrah para sahabat Rasulullah SAW, selalu ada yang membuat hati tersentuh. Salah satu kisah yang paling menginspirasi bagi saya adalah perjalanan Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat yang dikenal bukan hanya karena kekayaannya, tetapi juga ketulusan dan pengorbanannya yang luar biasa. Dari berbagai sumber sirah yang saya pelajari, kisah ini selalu menghadirkan hikmah baru yang tak pernah habis untuk direnungi.

Saudagar Sukses di Makkah dan Pilihan Hijrah

Kisah bermula di Makkah, pusat perdagangan Jazirah Arab. Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai saudagar sukses, hartanya melimpah, dan status sosialnya tinggi. Dalam masyarakat Arab pra-Islam, kekayaan adalah simbol kehormatan. Namun, ketika dakwah Rasulullah SAW mulai berkembang, Abdurrahman dihadapkan pada pilihan berat: tetap di Makkah dengan segala kemewahan, atau hijrah ke Madinah demi iman dan dakwah. Dari yang saya pahami tentang konteks sejarah, keputusan hijrah bukan sekadar pindah tempat, melainkan meninggalkan seluruh harta, status, dan kenyamanan demi keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Orang-orang Quraisy menawarkan dua pilihan: tetap di Makkah dengan segala fasilitas, atau berangkat ke Madinah tanpa membawa apapun. Bayangkan, seorang saudagar kaya harus berjalan kaki sekitar 400 kilometer, meninggalkan semua aset dan bisnis yang telah dibangun bertahun-tahun. Dalam tradisi Arab Jahiliah, ini adalah pengorbanan yang luar biasa, bahkan dianggap gila oleh sebagian orang. Namun, Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih berharga daripada harta dunia.

Perjalanan Hijrah dan Ujian Keluarga

Keputusan hijrah tidak hanya menguji Abdurrahman, tetapi juga keluarganya. Istrinya dihadapkan pada pilihan sulit: ikut hijrah dengan segala risiko, atau tetap di Makkah dengan fasilitas lengkap. Dari sisi kejiwaan, terlihat bagaimana keteguhan iman mampu mengalahkan godaan dunia. Dalam riwayat yang saya pelajari, istri Abdurrahman memilih ikut suami, meninggalkan segala kemewahan demi kebersamaan dalam iman. Sikap ini mengajarkan kita tentang pentingnya dukungan keluarga dalam perjuangan spiritual.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana masyarakat Quraisy menawarkan status terhormat dan kekayaan kepada istri Abdurrahman jika mau tinggal di Makkah. Namun, pilihan untuk hijrah bersama suami menunjukkan kekuatan cinta dan keyakinan kepada Allah. Dalam tradisi Arab, keputusan seperti ini sangat dihormati dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Sambutan Ansar dan Awal Baru di Madinah

Hijrah ke Madinah bukanlah akhir dari ujian, melainkan awal dari keajaiban. Dari pembelajaran saya tentang karakter masyarakat Madinah, para Ansar dikenal dengan sifat lembut dan suka menolong. Ketika Abdurrahman bin Auf tiba di Yatsrib (Madinah), ia disambut oleh orang paling kaya di kota itu, yang menawarkan setengah kekayaannya dan bahkan keluarga untuk dinikahi. Sifat dermawan Ansar ini tercermin dalam ayat Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 9:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan."

Yang selalu membuat saya kagum, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran harta dan memilih memulai usaha sendiri. Ia berkata, “Tunjukkan saja di mana pasar.” Sikap mandiri dan tawakal ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya usaha dan kepercayaan kepada Allah. Dalam waktu singkat, berkat kejujuran dan kerja keras, Abdurrahman bin Auf kembali menjadi saudagar sukses di Madinah. Dari sini saya bisa merasakan keindahan wisdom di balik hijrah: Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.

Pengorbanan Total: Harta untuk Dakwah dan Masyarakat

Kisah Abdurrahman bin Auf tidak berhenti pada keberhasilan bisnis. Yang paling menyentuh bagi saya adalah bagaimana ia menginfakkan seluruh kafilah dagangnya—600 unta penuh dengan emas, perak, dan berlian—untuk perjuangan Islam dan kesejahteraan masyarakat Madinah. Dari yang saya baca dalam berbagai riwayat, sepertiga hartanya disedekahkan untuk orang-orang miskin, sepertiga lagi untuk kas pemerintahan, dan sisanya untuk kebutuhan umat. Sikap dermawan ini menjadi simbol dari keimanan yang matang dan pemahaman mendalam tentang makna rezeki.

Dalam konteks budaya Arab saat itu, tindakan seperti ini sangat langka. Kebanyakan orang akan mempertahankan harta sebagai simbol status, namun Abdurrahman bin Auf justru mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan Allah. Hikmah yang bisa kita ambil bersama dari peristiwa ini adalah pentingnya berbagi dan mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Saya teringat hadist yang menyebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Hikmah Abadi dari Perjalanan Hijrah

Dari perjalanan panjang cerita ini, kita belajar bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi transformasi spiritual dan sosial. Abdurrahman bin Auf mengajarkan bahwa pengorbanan di jalan Allah akan diganti dengan rezeki yang lebih baik, baik di dunia maupun akhirat. Dalam konteks masyarakat modern, kisah ini relevan untuk siapa saja yang sedang berjuang meninggalkan zona nyaman demi kebaikan yang lebih besar.

Pesan universal dari peristiwa ini adalah pentingnya ketulusan, pengorbanan, dan kepercayaan kepada Allah. Semoga kisah hijrah Abdurrahman bin Auf menginspirasi kita untuk selalu berani mengambil keputusan besar demi iman, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Alhamdulillah, betapa beruntungnya kita memiliki teladan seperti beliau dalam sejarah Islam.