Islami 26 July 2025

Dilema Bekerja Saat Masa Iddah

Dilema Bekerja Saat Masa Iddah
Bagikan:

Di zaman modern ini, ada tantangan unik yang dihadapi wanita muslimah dalam menyeimbangkan tuntutan kehidupan dengan ketaatan pada syariat. Salah satunya tentang masa iddah, sebuah ketentuan yang penuh hikmah namun kadang menimbulkan pertanyaan praktis bagi mereka yang harus mencari nafkah. Bayangin deh, lagi butuh-butuhnya cari penghasilan untuk keluarga, ada ketentuan syariat yang mungkin belum banyak dipahami secara utuh.

Bagi sebagian wanita, bekerja itu bukan sekadar buat pamer status atau cari kesibukan, tapi udah jadi kebutuhan pokok yang nggak bisa ditawar. Apalagi di tengah harga-harga yang nggak pernah ramah sama dompet kita. Kalo bukan kita yang nyari uang, siapa lagi yang bakal nutupin kebutuhan sehari-hari?

Tapi bagi wanita yang lagi jalani masa iddah, pertanyaannya jadi lebih rumit. Boleh nggak sih tetap kerja kayak biasa? Atau harus diam di rumah dan berharap rejeki jatuh dari langit? Atau malah harus nunggu bantuan yang belum tentu datang?

Iddah dan Dilema Ekonomi Modern

Iddah, buat yang mungkin belum familiar, adalah masa tunggu bagi wanita setelah bercerai atau ditinggal wafat suaminya. Fungsinya bukan cuma buat mastiin rahim kosong atau nggak, tapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap pernikahan yang udah berakhir.

Dulu, mungkin perempuan lebih banyak bergantung sama suami atau keluarga besar. Tapi sekarang? Banyak yang jadi tulang punggung keluarga, single parent, atau bahkan harus ngurusin orang tua. Jadi kalo tiba-tiba disuruh “jangan keluar rumah” selama berbulan-bulan, ya jelas bingung dong.

“Gimana mau makan kalo nggak kerja?” keluh Anisa, seorang ibu muda yang baru bercerai. “Anak-anak masih kecil, mantan suami jarang ngasih nafkah, keluarga jauh. Masa iya harus minta-minta?”

Pertanyaan Anisa ini sebenernya jadi pertanyaan banyak wanita muslimah yang berada di posisi serupa. Beban ekonomi yang nggak kenal ampun kadang bikin mereka harus memilih antara patuh sama aturan agama atau tetap bertahan hidup.

Sebelum kita nyalahin siapa-siapa, yuk kita pahami dulu apa sebenernya yang dibolehkan dan nggak dibolehkan dalam Islam soal ini.

Apa Kata Islam Soal Wanita Iddah yang Kerja?

Plot twist! Ternyata Islam nggak sepenuhnya melarang wanita yang sedang iddah untuk bekerja. Tapi ada syarat dan ketentuannya, yang sebenernya cukup masuk akal kalo dipikir-pikir.

Islam itu agama yang realistis, nggak mungkin memaksa orang untuk melakukan hal yang nggak mungkin dilakukan. Termasuk dalam hal ini, nggak mungkin dong maksa seorang janda yang punya anak untuk diam di rumah tanpa penghasilan selama beberapa bulan.

Dalam pandangan Islam, wanita yang sedang menjalani masa iddah tetap diperbolehkan bekerja di luar rumah, tapi ada empat ketentuan yang harus dipenuhi. Ketentuannya memang lebih ketat dibanding wanita lain yang nggak sedang iddah, tapi bukan berarti mustahil untuk dijalani.

Pertama, bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok. Maksudnya adalah kebutuhan yang kalo nggak dipenuhi bisa bikin kita nggak bisa bertahan hidup secara fisik. Contohnya, kerja untuk dapetin makanan, minuman, dan kebutuhan dasar lainnya.

Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Ahmad Ash-Shawi:

وَلِلْمُعْتَدَّةِ الْخُرُوجُ فِي حَوَائِجِهَا الضَّرُورِيَّةِ كَتَحْصِيلِ قُوتٍ أَوْ مَاءٍ أَوْ نَحْوِهِمَا
"Bagi wanita iddah boleh keluar memenuhi keperluan primer, seperti memperoleh makanan pokok, air, dan sebagainya."

Ini artinya, kalo kamu punya cukup makanan di rumah atau punya aset yang bisa dipake untuk hidup selama masa iddah, ya sebaiknya nggak usah keluar rumah untuk kerja. Begitu juga, kalo kamu udah dapet cukup uang untuk makan sehari-hari, ya udah cukup, nggak perlu ngejar target karir dulu.

Yang menarik, wanita iddah juga nggak boleh berdagang dengan tujuan ngembangin usaha. Jadi fokusnya memang murni untuk bertahan hidup, bukan untuk investasi masa depan.

Ketika Nggak Ada yang Menanggung

Ketentuan kedua, nggak ada yang menanggung kebutuhan si wanita tersebut. Maksudnya, kalo nggak kerja sendiri, ya nggak bakal dapet apa-apa untuk nutupin kebutuhan sehari-hari.

Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami menjelaskan:

فَالضَّابِطُ فِي ذَلِكَ كُلُّ مُعْتَدَّةٍ لَا يَجِبُ لَهَا نَفَقَةٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهَا مَنْ يَقْضِي حَاجَتَهَا
"Patokan dalam hal ini adalah bagi setiap wanita iddah yang tidak berhak mendapat nafkah dan tidak ada siapa pun yang memenuhi kebutuhannya."

Jadi, kalo kamu masih dalam tanggungan nafkah suami, kayak istri yang menjalani iddah karena cerai raj’i (cerai yang masih bisa rujuk) atau dicerai dalam kondisi hamil, kamu nggak boleh bekerja tanpa izin suami. Karena pada dasarnya, suamilah yang wajib memenuhi nafkah selama masa iddah tersebut.

Begitu juga, kalo ada anak-anak atau keluarga yang ngasih bantuan, atau mungkin kamu dapat donasi dari dermawan atau komunitas, ya sebaiknya kamu nggak usah bekerja dulu.

Nah, ini yang kadang jadi masalah di zaman sekarang. Banyak suami yang ngilang setelah cerai, atau keluarga yang nggak peduli sama kondisi saudarinya yang sedang kesulitan. Makanya, banyak wanita yang terpaksa tetap kerja meski sedang iddah, karena nggak ada pilihan lain.

“Dulu pas cerai, saya langsung dikasih tau sama ustadzah kalau nggak boleh keluar rumah selama iddah. Tapi pas saya tanya terus makan pake apa, beliau cuma bilang ‘Allah akan ngasih rejeki’. Ya memang betul sih, tapi kan Allah juga ngasih kita akal dan tenaga untuk usaha,” cerita Maryam, seorang guru honorer yang harus tetap mengajar meski sedang iddah.

Waktu Kerja yang Dibatasi

Ketentuan ketiga, wanita iddah cuma boleh kerja di siang hari. Kenapa? Karena kerja di malam hari dianggap lebih berisiko, apalagi buat wanita yang punya pesona khusus.

Syekh Khatib As-Syirbini menjelaskan:

لَهَا الْخُرُوجُ فِي النَّهَارِ لِشِرَاءِ طَعَامٍ وَقُطْنٍ وَكَتَّانٍ وَبَيْعِ غَزْلٍ وَنَحْوِهِ لِلْحَاجَةِ إلَى ذَلِكَ
"Ia diperbolehkan keluar pada siang hari untuk membeli makanan, kapas, linen, menjual benang, dan sebagainya, karena hajat."

Tapi Islam juga nggak kaku. Kalo emang nggak ada pilihan lain selain kerja malam, misalnya karena kerjanya memang shift malam atau cuma ada lowongan di waktu malam, ya boleh aja. Seperti yang dijelaskan Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami:

وَكَذَا لَهَا الْخُرُوجُ لِذَلِكَ لَيْلًا إِنْ لَمْ يُمْكِنْهَا نَهَارًا
"Begitu juga wanita iddah itu boleh keluar rumah di malam hari jika tidak memungkinkan di siang hari."

Bayangkan deh kondisi wanita yang kerja jadi perawat shift malam, atau karyawan pabrik yang dapat shift malam. Masa iya harus berhenti kerja selama 3-4 bulan cuma karena iddah? Sementara kebutuhan hidup nggak bisa ditunda.

Antara Ihtiar dan Tawakal

Iman dan realitas ekonomi kadang memang bikin kita berada di persimpangan yang sulit. Di satu sisi, kita pengen banget taat sama aturan agama. Di sisi lain, perut kosong dan tagihan numpuk nggak bisa dibayar pake dalil.

Tapi kalo dipahami dengan benar, sebenernya Islam nggak pernah bermaksud memberatkan umatnya. Buktinya, meski ada aturan iddah yang ketat, tetap ada ruang untuk wanita bekerja dalam kondisi tertentu.

“Waktu itu saya sempet konsultasi sama beberapa ustadz soal boleh nggak kerja pas iddah. Ada yang langsung bilang nggak boleh, tapi ada juga yang ngejelasin lebih detail soal syarat-syaratnya. Akhirnya saya tetap kerja, tapi ngurangin jam kerja dan cuma fokus yang penting-penting aja,” cerita Dina, seorang akuntan yang tetap bekerja selama masa iddahnya.

Yang menarik, banyak wanita yang justru ngerasa lebih dekat sama Allah selama masa iddah sambil tetap kerja. Mereka jadi lebih banyak berdoa, lebih berhati-hati dalam berperilaku, dan lebih aware sama tujuan hidup mereka.

“Rasanya kayak diingetin terus sama Allah bahwa hidup itu nggak cuma soal kerja dan cari uang. Ada hal-hal spiritual yang juga perlu dijaga,” tambah Dina.

Mungkin itu juga salah satu hikmah dari iddah. Bukan cuma soal mastiin kehamilan atau menghormati pernikahan yang udah berakhir, tapi juga momen untuk refleksi dan menata ulang prioritas hidup.

Jalan Tengah yang Bijaksana

Dari semua ketentuan yang udah dijelasin di atas, bisa disimpulin bahwa Islam memberikan jalan tengah yang bijaksana. Wanita yang sedang iddah boleh bekerja dengan syarat:

  1. Untuk memenuhi kebutuhan pokok
  2. Nggak ada yang menanggung kebutuhannya
  3. Bekerja di siang hari (kecuali terpaksa)

Ini artinya, Islam nggak memaksa wanita untuk menderita selama masa iddah, tapi juga nggak membiarkan mereka bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan.

Yang penting adalah niat dan kesadaran. Kalo memang terpaksa harus kerja karena kebutuhan hidup, ya lakukan dengan niat baik dan tetap jaga adab selama masa iddah. Nggak perlu merasa bersalah berlebihan, tapi juga nggak boleh sembarangan.

“Iddah itu bukan hukuman, tapi bentuk penghormatan dan juga perlindungan bagi wanita itu sendiri,” jelas Ustadz Farid, seorang pengajar di pesantren modern. “Kalo memang ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan keluar rumah dan bekerja, ya boleh saja asal tetap jaga batasan.”

Pada akhirnya, yang paling penting adalah keseimbangan. Keseimbangan antara memenuhi kebutuhan duniawi dan ukhrawi, antara taat pada aturan dan mempertahankan kelangsungan hidup.

Mungkin kita perlu melihat iddah bukan sebagai beban, tapi sebagai kesempatan untuk merenung dan menata kembali hidup kita. Bukan cuma soal boleh kerja atau nggak, tapi lebih ke arah gimana caranya tetap bekerja dengan tetap menghormati ketentuan syariat.

Dan buat kita yang nggak sedang mengalami iddah, mungkin bisa jadi pelajaran untuk lebih aware sama kondisi wanita-wanita di sekitar kita yang sedang berjuang menjalani masa iddah sambil tetap bekerja. Siapa tau kita bisa bantu meringankan beban mereka, sehingga mereka nggak perlu memaksakan diri bekerja melebihi batas yang diperbolehkan.

Karena pada dasarnya, Islam itu indah dan penuh hikmah. Setiap aturannya pasti ada manfaat yang kadang baru kita rasakan setelah kita jalani dengan ikhlas dan pemahaman yang utuh.