Umum Sejarah Islam 24 July 2025

Haji, Gerbang Keilmuan Islam Nusantara

Haji, Gerbang Keilmuan Islam Nusantara
Bagikan:

Aneh ya, orang zaman dulu kalau berangkat haji, pulangnya nggak cuma bawa oleh-oleh kurma atau air zamzam. Mereka bawa pulang ilmu, kitab, bahkan kadang jadi ulama dadakan di kampung. Ironisnya, di era teknologi canggih ini, kadang kita lupa kalau haji dulu itu bukan sekadar ibadah, tapi juga momen transfer pengetahuan yang luar biasa.

Bayangin suasana Makkah ratusan tahun lalu. Jamaah Nusantara datang bukan cuma buat thawaf dan sa’i, tapi juga buat ngaji, diskusi, bahkan nulis surat ke ulama Haramain. Ada yang nitip pertanyaan, ada yang minta fatwa, ada juga yang pesan kitab. Serius deh, vibes-nya kayak seminar internasional, tapi versi jalan kaki dan naik kapal laut berbulan-bulan.

Nah, ini dia yang menarik. Banyak karya tulis ulama Haramain lahir gara-gara pertanyaan santri Nusantara. Ada kitab yang khusus ditulis buat jawab masalah dari “Jawiyyin”—sebutan buat orang Nusantara. Misal, Ibrahim al-Kurani, ulama top di Makkah, nulis kitab tasawuf karena santri Nusantara kepo soal hakikat dan syariat. Bahkan, ada murid-murid beliau yang jadi penulis kitab juga, kayak Abdul Syukur al-Syami.

Plot twist-nya di sini: perjalanan haji jadi jalur distribusi kitab. Sebelum ada pos atau kurir, jamaah haji jadi “ekspedisi” dadakan. Di Aceh, Jawa, sampai Madura, ada tradisi titip kitab lewat jamaah haji. Surat-suratnya lucu, kadang campur Arab, Pegon, dan bahasa daerah. Ada yang nitip kitab, ada yang minta dibelikan, bahkan ada yang ngutang dulu, bayarnya nanti di pasar. Relatable banget, kan?

Oke, sekarang bayangin. Di Makkah, ada percetakan kitab milik ulama Nusantara. Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, misalnya, iparnya punya percetakan yang dalam empat tahun bisa nerbitin 100 judul kitab. Gila, kan? Kitab-kitab itu nggak cuma buat koleksi, tapi jadi bahan ngaji di pesantren-pesantren Nusantara. Transfer ilmu lewat jalur haji, literally.

Tunggu dulu, belum selesai. Di surat-surat dari Makkah ke kampung halaman, ada cerita tentang santri yang baru pulang dari Mesir, bawa kitab baru, langsung dikirim ke guru di kampung. Tradisi ini bikin arus pengetahuan nggak pernah putus. Setiap musim haji, selalu ada update ilmu, fatwa, bahkan tren kitab terbaru. Kalau sekarang update ilmu lewat WhatsApp, dulu lewat kapal dan surat tangan.

Yang bikin gue kepikiran, haji itu bukan cuma soal spiritual, tapi juga intelektual. Jamaah haji Nusantara pulang dengan wawasan baru, kadang jadi rujukan di kampung. Ada yang jadi guru, penulis, bahkan pelopor pendidikan. Transfer pengetahuan ini bikin Islam Nusantara makin kaya dan dinamis.

Serius deh, ini crazy. Di era digital, kadang kita lupa kalau tradisi belajar dan berbagi ilmu itu akar dari perjalanan haji. Dulu, haji adalah gerbang keilmuan, bukan sekadar ritual. Wisdom bomb: next time kalau ada keluarga atau teman berangkat haji, ingat, mereka nggak cuma cari pahala, tapi juga bawa pulang ilmu yang bisa mengubah kampung halaman.

Pada akhirnya, kita semua butuh perjalanan—baik fisik maupun intelektual. Haji adalah salah satu contoh, di mana ibadah dan ilmu berjalan beriringan. Lucunya, semakin kita sibuk dengan teknologi, semakin kita butuh tradisi lama yang mengajarkan makna belajar dan berbagi. Mark my words, tradisi transfer ilmu lewat haji bakal selalu relevan, apapun zamannya.