Di tengah arus zaman yang semakin deras, kita sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menggoda. Gaya hidup hedonis, yang mengutamakan kesenangan sesaat dan gengsi, perlahan menjadi budaya yang merasuki banyak lapisan masyarakat. Namun, di balik gemerlap dunia, ada nilai-nilai Islami yang justru semakin relevan untuk kita pegang: qanaah dan syukur.
Senyum di Tengah Kesederhanaan
Di sebuah kampung kecil, seorang ayah duduk bersama anak-anaknya di teras rumah. Mereka berbincang tentang kehidupan, tentang rezeki yang datang dan pergi. “Nak, bahagia itu bukan soal banyaknya harta, tapi hati yang merasa cukup,” ujar sang ayah dengan senyum yang tulus. Anak-anak pun belajar, bahwa qanaah adalah kekayaan sejati yang tak bisa diukur dengan materi.
Di masjid kampung, para jamaah saling menyapa dengan hangat. Tak ada yang merasa lebih, tak ada yang merasa kurang. Mereka bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, sekecil apapun itu. Suasana sederhana itu justru menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Dialog Batin di Kota Besar
Di sudut kota, seorang pemuda merenung di tengah keramaian. Ia melihat teman-temannya berlomba-lomba memamerkan pencapaian, barang baru, dan gaya hidup mewah. Dalam hati, ia bertanya, “Apakah kebahagiaan hanya soal memiliki lebih?” Jawabannya datang dari refleksi sederhana: kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang ada.
Pemuda itu pun teringat sabda Nabi:
Ia mulai belajar menahan diri dari keinginan yang berlebihan, dan memilih untuk menikmati setiap nikmat yang Allah berikan.
Qanaah, Penangkal Hedonisme
Di ruang keluarga, seorang ibu mengajarkan anak-anaknya tentang qanaah. “Jangan iri pada orang lain, syukuri apa yang kita punya,” katanya lembut. Anak-anak pun belajar bahwa qanaah bukan berarti pasrah, tapi menerima dengan lapang dada dan tetap berusaha.
Qanaah membuat seseorang lebih tenang, tidak mudah tergoda oleh gemerlap dunia. Ia mampu berbagi dengan sesama, karena tidak takut kehilangan. Dalam suasana seperti ini, hedonisme perlahan terkikis, digantikan oleh rasa cukup dan syukur yang mendalam.
Syukur, Kunci Kebahagiaan
Di sebuah majelis ilmu, seorang ustadz mengingatkan jamaahnya tentang pentingnya syukur. “Syukur itu pengikat nikmat yang ada, sekaligus alat berburu nikmat yang belum didapatkan,” ujarnya, mengutip para ulama:
Jamaah pun belajar, bahwa dengan bersyukur, hati menjadi lebih lapang dan hidup terasa lebih bermakna. Syukur mengajarkan kita untuk tidak selalu membandingkan diri dengan orang lain, melainkan fokus pada nikmat yang telah Allah berikan.
Melihat ke Bawah, Bukan ke Atas
Di sebuah sekolah, guru mengajarkan murid-muridnya untuk melihat ke bawah, bukan ke atas. “Perhatikanlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian,” kata sang guru, mengutip sabda Nabi:
Anak-anak pun belajar, bahwa membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan iri dan ketidakpuasan. Dengan bersyukur, mereka lebih mudah menerima takdir Allah dan mendoakan kebaikan bagi sesama.
Menjadi Pribadi yang Bersyukur
Di tengah arus hedonisme, qanaah dan syukur menjadi benteng yang kokoh. Kita belajar untuk menghargai apa yang kita miliki, mengurangi konsumsi berlebihan, dan meningkatkan kepuasan batin. Dengan qanaah, kita tidak mudah tergoda oleh dunia. Dengan syukur, kita lebih mudah menerima takdir dan menjadikan setiap pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai sesuatu yang harus ditandingi.
Mari kita teguhkan qanaah dan syukur dalam kehidupan sehari-hari. Hedonisme hanya akan membawa kita pada kekecewaan dan ketidakpuasan. Dengan qanaah dan syukur, hidup menjadi lebih bermakna dan penuh berkah.